Minggu, 07 Januari 2018

Survey Kepuasan Pelanggan 2017-2018

Perbandingan Klausul ISO 9001:2008 dan ISO 9001:2015


1. SCOPE
  • Tidak banyak perubahan signifikan antara klausul 1 versi 2008 dengan 2015 selain menambahkan “Service” setelah “Product” karena pada versi ISO 9001:2015, Istilat produk dan jasa dibedakan dengan jelas untuk menghindari kerancuan.
  • Satu perubahan yang sangat mencolok di klausul 1 ini adalah hilangnya klausul 1.2 tentang aplikasi di ISO 9001:2015. Artinya, ISO 9001:2015 pada asalnya tidak mengizinkan adanya klausul yang dikecualikan atau tidak diterapkan. Alasannya ada pada pernyataan klausul 1 – ISO 9001:2015

2. NORMATIVE REFERENCE
  • Tidak ada yang istimewa pada klausul ini

3. TERMS AND DEFINITIONS
  • Tidak ada yang istimewa pada klausul ini

4. CONTEXT OF THE ORGANIZATION
  • Klausul 4 pada ISO 9001:2008 langsung menjelaskan tentang persyaratan dokumen ISO 9001. Adapun pada ISO 9001:2015 baru sebatas membicarakan konteks organisasi.
  • Pembahasan tentang manajemen resiko mulai terlihat pada klausul 4 ISO 9001:2015 dimana organisasi diminta untuk menetapkan hubungan antar proses, isu internal dan eksternal, serta hubungan dengan berbagai pihak.
  • Organisasi juga diminta untuk menetapkan ruang lingkup penerapan ISO 9001.
  • Meski ISO 9001:2015 menyatakan bahwa seluruh klausul ISO 9001:2015 dapat diterapkan untuk seluruh jenis organisasi, Klausul 4.3 ISO 9001:2015 tetap mengizinkan adanya pengecualian sepanjang ada justifikasi yang diterima

5. LEADERSHIP
  • Secara umum, isi dari klausul 5 ISO 9001:2015 tidak berbeda dengan ISO 9001:2008 yang membicarakan seputar kewajiban yang harus dijalankan oleh top management
  • Persyaratan lama seperti kebijakan mutu dan sasaran mutu tetap wajib dibuat. Hanya manual mutu yang tidak lagi menjadi wajib pada versi ISO 9001:2015.
  • Hal yang berbeda dari ISO 9001:2015 adalah tidak ada lagi kewajiban menunjuk management representative meskipun keberadaannya tentu tidak melanggar klausul ISO 9001:2015

6. PLANNING
  • Ini merupakan klausul yang benar-benar baru dibanding ISO 9001:2008. Titik berat dari klausul 6 ISO 9001:2015 ini adalah meminta setiap organisasi untuk mengenali resiko dan peluang; berupaya untuk meraih peluang dan mencegah, mengurangi, dan menangani resiko
  • Klausul 6, khususnya Klasul 6.2 juga berbicara tentang kewajiban setiap organisasi untuk memenuhi sasaran mutu mereka dengan menetapkan rencana tindakan yang sesuai.

7. SUPPORT
  • ISO 9001:2015 lebih rapi dalam pengelompokan klausul. Semua yang berhubungan dengan support (proses pendukung) dikumpulkan pada klausul 7 ini.
  • Klausul tentang dokumen, infrastucture, sumber daya manusia, kompetensi, sosialisasi dan komunikasi, sampai alat ukur, semuanya dikumpulkan pada klausul ini
  • Klausul 7 ISO 9001:2015 seperti klausul 4, 6, dan 7.6 dari ISO 9001:2008 yang diringkas menjadi 1.
  • Klausul 7.5 ISO 9001:2015 juga menarik untuk disimak karena membahas tentang documented information (informasi terdokumentasi)
  • Dengan menggunakan istilah umum “documented information”, ISO memberi kebebasan untuk menetapkan dokumen yang dibutuhkan apakah ia dalam bentuk prosedur atau records. Ini sangat berbeda dengan ISO 9001:2008 yang secara tegas meminta dibuatnya 6 Prosedur Wajib dan di beberapa tempat meminta dibuatnya records.
  • Pada ISO 9001:2015, tidak lagi ada istilah 6 prosedur wajib dan form wajib. Organisasi diberi kebebasan apakah mereka cukup dengan form saja atau harus dalam bentuk prosedur

8. OPERATION
  • Semua hal yang berkaitan dengan operasional organisasi dibahas pada klausul 8 ISO 9001:2015 ini
  • Klausul 8 ISO 9001:2015 seperti klausul 7 ISO 9001:2008 yang disempurnakan karena membahas seluruh aspek operasional mulai dari perencanaan produk atau jasa, pelaksanaan produksi atau penyediaan jasa, hubungan dengan pelanggan dan pihak ketiga, penyimpanan dan perlindungan produk atau jasa sampai penanganan masalah selama proses operasional.

9. PERFORMANCE EVALUATION
  • Klausul 9 lagi-lagi menunjukkan bahwa ISO 9001:2015 lebih rapi dalam pengelompokan klausul
  • Semua hal yang berkaitan dengan evaluasi dikumpulkan pada klausul ini seperti audit internal, pengukuran dan pemantaun proses dan kepuasan pelanggan, analisis dan evaluasi proses, sampai rapat tinjauan manajemen.

10. IMPROVEMENT
  • Klausul 10 berisi tentang upaya perbaikan yang berkesinambungan yang harus dilakukan organisasi
  • Konsepnya kurang lebih sama dengan konsep corrective action dan non confirmity pada ISO 9001:2008
  • Hanya saja pendekatan yang digunakan adalah pendekatan manajemen resiko dimana tidak ada lagi istihan preventive action tetapi yang ada adalah resiko dan peluang

Bila kita simpulkan, perubahan paling mencolok ISO 9001:2015 adalah:
  • Konsep pencegahan, pengurangan, dan penanganan masalah menggunakan pendekatan manajemen resiko (resiko dan peluang)
  •  Tidak ada lagi istilah 6 prosedur wajib dan form wajib
  • Manual mutu dan management representative tidak wajib lagi meski keberadaannya tidak menjadi masalah
Demikian review singkat kami tentang 10 Klausul ISO 9001:2015. Sebagai Konsultan ISO 9001:2015 terdepan, kami akan terus mengabari anda seputar perubahan ISO 9001:2015. Pada artikel berikutnya, kami akan membahas tetang apa saja dokumen (documented information) yang diminta oleh ISO 9001:2015.

1.      Survei Umum
§   Survei pelanggan siswa terhadap Du/Di
2.     Survei Khusus
§   Kelas X AK 1
§   Kelas X AK 2
§   Kelas X AK 3
§   Kelas X AK 4
§   Kelas X AP 1
§   Kelas X AP 2
§   Kelas X AP 3
§   Kelas X AP 4
§   Kelas X PS 1
§   Kelas X PS 2
§   Kelas X PS 3


Sabtu, 29 Juli 2017

ENERGY, let's save it ! : Lomba Film Pendek Kemendikbud 2017 Pendidikan ...

Youth Creation | Sekolahku Sehat dan Bergizi : -"Sekolahku Sehat, Aku Be...

Senin, 03 April 2017

Hydroponics in SMK Negeri 1 Bandung

HYDROPONICS IN SMK NEGERI 1 BANDUNG


Source : Personal Documentation

The History of Hydroponics
     The word 'Hydroponics' was coined by Dr. W.F. Gericke in 1936 to describe the cultivation of edible and ornamental plants grown in a solution of water and dissolved nutrients. It literally means working water; 'hydro' meaning 'water' and 'ponos' meaning 'labour'. For example, the hanging gardens of Babylon and the floating gardens of the Aztecs of Mexico and those of the Chinese. The first commercial hydroponic unit in the USA is developed by Gericke in 1930. American forces employed this system in the Pacific to produce vegetables during World War II. In 1842 a list of nine elements believed to be essential to plant growth had been made out, based on the discoveries of the German botanists, Julius von Sachs and Wilhelm Knop. Solution culture is now considered a type of hydroponics where there is no inert medium. Today, it is a well know fact that in some parts of the world, plant life does not grow in the available soil. One reason behind the drive to develop hydroponics was the need for growing fresh produce in non-arable areas of the world. Consumption of herbal medicines is widespread and increasing. Harvesting from the wild, the main source of raw material, is causing loss of genetic diversity and habitat destruction. Domestic cultivation is a viable alternative and offers the opportunity to overcome the problems that are inherent in herbal extracts, misidentification, genetic and phenotypic variability, extract variability and instability, toxic components and contaminants. The use of controlled environments can overcome cultivation difficulties and could be a means to manipulate phenotypic variation in bioactive compounds. When it comes to being environment friendly, hydroponics is beneficial over geoponics, mainly because these methods do not promote the use of chemicals fertilizers or pesticides. NASA have a list of 15 plants, grown using hydroponics that will save our life (should the need ever arise).

The great advantages of hydroponics gardening over classic geoponics gardening:
1.         Hydroponics gardening can be packed and kept it alive and fresh for longer periods of time
2.         Hydroponics gardening does not even use any kind of solid medium.
3.         Full control of the plant’s root system and in eye contact always.
4.         No need to worry about over watering or under watering.
5.        It can be developed in areas where there´s no quality soil present e.g in areas covered with snow  or  in a space station.
6.     An excellent plant research and plant learning tool and can be transferred anywhere without any  hassle.
7.         In hydroponics gardening there is no soil at all no weeds and no pesticides of course.
8.         The use of water to maintain and preserve the plant can be dramatically reduced.
9.         A hydroponics garden may be set up with timer systems to automatically fertilize the plants.
10.     Healthier because they receive a balanced and controllable portion of nutrients.

    The extension of the growing season is not the only advantage contributing to the growing popularity of hydroponics production with both growers and consumers. There are several additional advantages as well including nutritious, healthy and clean produce, improved and consistent vegetable quality and elimination of the use of pesticides and herbicides. Pesticides and other chemicals used in conventional agriculture have an adverse environmental impact; the runoff from these chemicals, contaminates groundwater supplies. Commercial hydroponics systems eliminate these toxic chemicals and contribute substantially to keeping the groundwater free from contamination.

Plants Grown Hydroponically
     It is practically possible to grow any types of fruit, vegetable, herb etc. using this technique. Hiercium pilosella, Hypericum perporatum, Arnica montana, Ocimum basilium (basil), Anethum gravel (dill), Chrysanthemum partherium, Aloe vera, Mentha spp.(mint), Rumex officinalis (French. sorrel), Rosemary officinalis (rosemary), St.john’s wort, cucumber, spinach, chili, lettuce, broccoli, pepper, petunias, tomatoes, cabbage, green peas, echinacea, ginseng, thyme, tarragon, spearmint, peppermint, sorrel, sage, oregano, marjoram, mache, leman baln, coriander, chives, chervil, aurugula, potatoes, and many other are the popular choice of vegetables that can be grown using hydroponics. Similarly, fruits such as strawberries, watermelons and cantaloupes can also be grown using hydroponic gardening at home. Flowers show a better bloom when grown hydroponically. Growing plants hydroponically is not only easy but also effective in terms of end product. The entire hydroponic system can be made automated, so that it can be even controlled from another country. Mostly basic systems are preferred. Hydroponics allows us to grow vegetables and fruits inside our apartment.
Source : Personal Documentation

Hydroponics Techniques and Their Classification
      One of hydroponics techniques that are used in SMK Negeri 1 Bandung is Nutrient Film Techniques. This system delivers a constant flow of nutrients to the plants with a pump, so no timer is required. This system doesn’t require a growing medium; the plants are simply suspended in a plastic tray with the roots dangling in a nutrient solution.

                 Source : (a) www.hydro-industries.com/hydroponic-systems (b) Personal Documentation

Basic Requirements of Hydroponics
Growing Medium
      The growing medium for hydroponic gardening is an inert medium which does not provide any nutrients to the plant. It only provides the basis for the roots to grow in. Coco coir fiber, Rockwool, Perlite, Vermiculite, LECA, Expanded clay, Crushed granite, Sand, Scoria, Gravel are the various types of growing mediums available for growing plants hydroponically. A growing medium allows us to add the correct amount of nutrients and also monitor the pH in a hydroponic system. In addition, using a growing medium other than soil has several advantages that include:
1.   Prevention of root infestations,
2.   Retention of adequate oxygen and water and
3.   Increased aeration and draining.
                                             Rockwool              Coco coir fiber                 Perlite
                                                                  Source : www.reetaj.ae
Mineral Nutrients
1.    Macro-nutrients
1. Carbon -Formation of organic compounds, 2. Oxygen- Release of energy from sugar, 3. Hydrogen- Water formation,  4. Nitrogen- Chlorophyll, Amino Acids and Proteins synthesis, 5. Phosphorus- Vital for photosynthesis and growth, 6. Potassium- Enzyme activity, 7. Calcium- Cell growth, cell division and the components of cell wall, 8. Magnesium-Component of chlorophyll, enzyme activation, 9. Sulfur- Formation of Amino Acids and Proteins.
2.    Micro-nutrients
10. Iron- Used in Photosynthesis, 11. Boron – Vital for reproduction, 12. Chlorine Helps root growth, 13. Copper- Enzyme activation, 14. Manganese- Component of chlorophyll, Enzyme activation, 15. Zinc- Component of enzymes and auxins, 16. Molybdenum- Nitrogen fixation, 17. Cobalt- Nitrogen fixation.
     The E.C. (electrical conductivity) of this formula should be approximately 2.5 and the pH adjusted to 5.5 - 6.5. If the day length is below 11 hours, the E.C. should be increased to 3.0-3.6, but the concentration of nitrogen kept at 210 ppm. Under these conditions, a smaller root system develops and more energy is available for shoot (vegetative) growth. The higher E.C. ensures adequate nutrition even with a smaller root system.
Temperature
     Temperature affects plant in two ways. High temperatures tend to accelerate the growth of the plant which increases the plant need for water. High temperatures also increase the plants consumption of water for cooling itself through evaporation.
Air
     Wind or air movement has a dramatic influence on the plants consumption of water particularly when combined with high temperature in much the same way as clothes dry much faster on our clothes line on a windy day. In some plants it helps in pollination.
Water
    As a general rule, all water suitable to drink or used to irrigate greenhouses is ideal for hydroponics. To be more precise, water suitable for hydroponics should have conductivity less than 500 uS/cm, or a total salt concentration less than 350 ppm. Harmful amounts of sodium and boron can cause problems in some areas. Very soft water should be used with calcium-containing nutrients.
Light
     Areas that already get sunlight will need fewer hydroponic lights than a hydroponic garden grown in a fully enclosed room. Remember that sunlight is less predictable than artificial lighting. If greenhouse is used to grow hydroponic garden, it won’t need much artificial light during the spring and summer. Expect to supplement the sun with hydroponic lights once the amount of available light begins to wane. Indoor growers often rely almost completely on artificial light, since limited amounts of sunlight gets to their plants.
Growth Enhancer, Booster, and Fortifiers
     Certain commercial products have been developed that can stimulate faster nutrient uptake and speed up stem and leaf growth. Many of these products are best left to the advanced and experienced growers. Novice hydroponics enthusiasts approach such products like growth boosters with caution. There are several products available in the market that claim to work as bloom fortifiers. These formulations act to stimulate flowering and increase essential oils in plants. A bloom fortifier can be selected with an NPK (Nitrogen, Phosphorus, Potassium) ratio of 0-50-30. Such fortifiers have no Nitrogen and are rich in Phosphorus and Potassium. These essential minerals stimulate the formation of super blooms.

Hydroponics farming in SMK Negeri 1 Bandung
      The land that we have here on earth is a valuable but rapidly depleting resource. There is no way to recover more once we use all of it up. The only answer to this is to learn alternate methods to do things that take up the majority of our usable land. Farming is that thing and hydroponics is a way to cure the problem. Hydroponics is popular not just as a way to produce larger, healthier, and more flavorful foods on a large scale, but also as a household hobby. Simple hydroponic systems can help people grow herbs, flowers, or vegetables in their basement, in a large closet or even on their kitchen counter.
      In SMK Negeri 1 Bandung, we have 4 hydroponics installation systems. The first installation system covers 24 meter2, the second installation system covers 9 meter2, and two spiral-shaped installation systems. In a time of harvest, from the four installation system can be produced about 25 kg of vegetables. Each 1 kg of vegetables can be sold for Rp. 30.000,00 until Rp. 40.0000,00 depends on the quality of vegetables. So that in one of the harvest time, can yield about Rp. 750,000.00 to Rp. 1,000,000.00.
      Many people look to hydroponics as the way the most food may be grown in the future. As the amount of arable land diminishes each year, hydroponics may be the answer to sustaining the world's food supply because of its ability to produce larger yields using a smaller amount of space.

Documentation







Reference
1.       George pattenson, A Brief History of Hydroponics, http://ezinearticles.com. (Last cited on 2010  Dec 28).
2.         Keith Roberto, How to Hydrophonics, 4th edition, The Future garden press, 59,(2003).
3.         Myron L company, Application bulletin Hydrophonics,1-2, (2008).
4.         Wade.L.Berry and Sharon Knight, Plant culture in Hydrophonics, 119-13



Minggu, 19 Februari 2017

Save the Energy, Save the Date, JAPAN HERE WE COME!!! ❤❤❤

SEAMEO SAVING ENERGY ESD JAPAN AWARD
SAVE THE ENERGY, SAVE OUR PRESENT, SAVE OUR FUTURE, SAVE THE DATE
JAPAN HERE WE COME!!! ❤❤❤



Tidak bisa tergambar dengan kata-kata kebahagiaan kami, tim ESD SMK N 1 Bandung, ketika mendengar kabar bahwa kami menjadi juara pertama Saving Energy ESD Japan Award 2016. Setelah itu, beberapa hari kemudian kami mendapat undangan dari direktorat untuk menjadi narasumber dalam video conference Koordinasi Mutu SMK 2017. Link di bawah ini adalah link youtube dari video conference tersebut :


Adapun tulisan berikut adalah ringkasan mengenai program SEAMEO Saving Energy ESD Japan Award 2016 dan ringkasan kegiatan Saving Energy di SMK Negeri 1 Bandung. 

A.   Latar Belakang
Pada tahun 2002, Majelis Umum PBB mengadopsi Resolusi 57/254 dan menyatakan periode 2005-2014 sebagai "Dekade PBB Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan" (DPPB).

Dalam deklarasinya, Majelis Umum PBB mendefinisikan ESD (Education for Sustainable Development) sebagai "proses belajar (atau pendekatan pengajaran) berdasarkan cita-cita dan prinsip-prinsip yang mendasari keberlanjutan dan berkaitan dengan semua tingkat untuk memberikan kualitas pendidikan dan mendukung pembangunan berkelanjutan - belajar untuk tahu, belajar untuk menjadi, belajar untuk hidup bersama, belajar yang harus dilakukan dan belajar untuk mengubah diri sendiri dan masyarakat ".

Pada akhir DPPB di 2014, UNESCO World Conference yang diselenggarakan di Jepang mengumumkan program Global Action (GAP) pada ESD bertujuan menghasilkan dan meningkatkan tindakan ESD di semua tingkat dan di semua bidang pendidikan, pelatihan, dan pembelajaran untuk mempercepat kemajuan menuju pembangunan berkelanjutan dengan agenda pasca-2015.

Sementara ESD diimplementasikan di seluruh dunia di bawah GAP, serta mempromosikan ESD di Asia Tenggara, SEAMEO (SEAMEO), dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains dan Teknologi, Jepang (MEXT), bekerjasama dengan UNESCO regional Asia Pasifik untuk Pendidikan, telah menunjukkan komitmen kolektif mereka untuk mempromosikan praktik terbaik dalam ESD di sekolah-sekolah di seluruh Asia Tenggara dengan menyelenggarakan Pendidikan SEAMEO-Jepang untuk Pembangunan Berkelanjutan (ESD). Skema penghargaan telah diselenggarakan setiap tahun sejak 2012.

B.   Skema Pernghargaan SEAMEO-Jepang ESD Award

Skema penghargaan pertama tahun 2012, dengan tema: "Pendidikan untuk Pengurangan Risiko Bencana". Kompetisi awal ini menarik 69 sekolah di Indonesia, Lao PDR, Malaysia, Myanmar, Filipina, Thailand dan Vietnam.

Penghargaan pada tahun 2013, dengan tema "Nilai Pendidikan" dan menarik 126 peserta dari sekolah di delapan negara Asia Tenggara, yaitu Brunei Darussalam, Indonesia, Lao PDR, Malaysia, Myanmar, Filipina, Thailand dan Vietnam.

Penghargaan pada tahun 2014, dengan tema "Pembinaan Global Citizenship untuk Masa Depan yang Berkelanjutan", yang terlibat 63 sekolah di sembilan negara Asia Tenggara, yaitu Brunei Darussalam, Indonesia, Lao PDR, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam.

Penghargaan pada tahun 2015, dengan tema "Menjaga Tradisi Budaya kita", diikuti oleh 90 sekolah di 10 negara Asia Tenggara, yaitu Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam.

Penghargaan pada tahun 2016, dengan tema „Penghematan Energi“, diikuti oleh 60 sekolah dari 12 negara dari Asia Tenggara dan India.

C.   DEWAN JURI
Seorang ahli ESD dari Jepang
Prof Dr Masahisa Sato
Profesor
Tokyo City University, Jepang

Seorang ahli ESD dari kawasan Asia Tenggara
Dr Prapatpong Senarith
Mantan Wakil Sekretaris Permanent- Pendidikan, Kementerian Pendidikan-Thailand
Penasihat Departemen Pendidikan-Thailand

Dr Samran Chooduangngern
Presiden OJSAT dan JGSAFT
Old Jepang Himpunan Mahasiswa, Kerajaan Thailand
Di bawah Binaan Mulia Raja

Seorang wakil dari UNESCO Asia Pasifik untuk Pendidikan (Bangkok)
Ms Ushio Miura
Spesialis Program
Seksi Pendidikan Inovasi dan Pengembangan Keterampilan
UNESCO Bangkok

Perwakilan dari SEAMEO
Dr Asmah Ahmad
Programme Officer II

Dr Tinsiri Siribodhi
Wakil Direktur (Administrasi dan Komunikasi)

D.   Pemenang ESD Award (Saving Energy) 2016

Hadiah 1 : SMK Negeri 1 Bandung, Indonesia

Judul Program Sekolah:
"Hemat Energi, Save Our Present, Save Our Future"

Alamat: Jalan Wastukancana No 3 Bandung
Provinsi Jawa Barat, 2016, Indonesia
Tingkat Pendidikan: SMK
Jumlah Guru: 94
Jumlah Mahasiswa: 1.385
Kepala Sekolah: Ms Dra. Nani Sri Iriyani
Mengkoordinasikan Guru: Ms Dini Siti Anggraeni S.Pd., M.Si
Website: www.smknegeri1bandung.com

Hadiah 2 : SJK (C) Pulai, Malaysia

Judul Program Sekolah:
"Konservasi Energi melalui Program Budaya Berkelanjutan dan Low Carbon Sekolah"

Alamat: Johor Bahru, Johor, 81300, Malaysia
Tingkat Pendidikan: Grade 1-6
Jumlah Guru: 58
Jumlah Siswa: 899
Kepala Sekolah: Mdm Lee Boh Dan
Mengkoordinasikan Guru: Ms Cheng Xui Chein, Ms Lim Xin Yi
Website: N / A

Hadiah 3 : Sekolah Tinggi Nasional Bintawan, Filipina

Alamat: Purok Liwliwa, Bintawan Sur, Villaverde, 3701, Filipina
Tingkat Pendidikan: Grade 7-12
Jumlah Guru: 61
Jumlah Mahasiswa: 1.200
Kepala Sekolah: Dr Merlita C Padilla
Mengkoordinasikan Guru: Mrs Rucelle T. Borja
Website: N / A

E.   Kesimpulan
SMK Negeri 1 Bandung adalah sekolah dengan bidang manajemen bisnis. Sekolah ini terletak di pusat kota Bandung, Jawa Barat Indonesia. Dalam kegiatan Save The Energy, Save Our Present, Save Our Future, terdiri dari dua program utama. Program pertama yang digagas oleh manajemen sekolah (kepala sekolah dan staf, yang memiliki kewenangan dalam memutuskan program kerja di sekolah). Program kedua yang digagas oleh siswa melalui komunitas lingkungan sekolah, yaitu The Greenish.

Program yang diprakarsai oleh manajemen sekolah, meliputi mata pelajaran yang mendukung program penghematan energi, yaitu Pendidikan Lingkungan dan IPA Terapan;  arsitektur kelas, laboratorium, dan ruang ruang lainnya yang hemat energi, seperti dinding yang tinggi dan banyak ventilasi; penataan ruang (desain interior) yang hemat energi, misalnya penggunaan lampu, penggunaan warna cat tembok, penggunaan peralatan di kelas yang hemat energi (komputer dan proyektor); sepeda atau bus untuk sosialisasi sekolah, Ujian Dalam Jaringan atau CBT dalam pelaksanaan tes, ujian sekolah, dan ujian akhir nasional; terlibat dalam program pemerintah yang mendukung program penghematan energi, yaitu Program Adhiwiyata dan Program Sekolah Sehat; penyediakan tong sampah yang cukup untuk menampung sampah di sekolah setiap hari dan menyediakan 2 jenis tong sampah untuk sampah organik dan anorganik, mendukung pembentukan ekstrakurikuler yang peduli terhadap lingkungan, yaitu The Greenish.

Program yang diprakarsai oleh The Greenish, terdiri dari lima program utama (divisi), Divisi I adalah SEPACO yang program utamanya berpatroli ke setiap ruangan untuk memastikan apakah ruangan telah dimatikan termasuk semua peralatan elektroniknya, dan keran air di kamar mandi. Divisi II Paperless Generation adalah program kerja yang bekerja bersama-sama dengan tim Digital Sekolah SMK Negeri 1 Bandung yang menggunakan platform Edmodo dalam pembelajaran di sekolah, sehingga pembelajaran sekolah menjadi paperless. Divisi III Komunitas Hijau yang program utamanya adalah untuk merawat tanaman di sekolah (taman, taman vertikal, green house, roof garden, dan hidroponik) dan membuat biopori di tempat-tempat yang sering meluap. Divisi IV Zero Waste adalah divisi untuk meningkatkan upaya dalam mengurangi produksi sampah di lingkungan sekolah, seperti kompos, bank sampah, memilah sampah, mengurangi penggunaan kantong plastik dengan menggunakan kotak makan siang. Divisi V ECOS adalah divisi yang program utamanya adalah untuk memberdayakan warga sekitar sekolah untuk berpartisipasi dalam penghematan energi, misalnya menginformasikan warga tentang program hemat energi, program pengumpul sampah, mengajarkan untuk mendaur ulang limbah, besar harapan selain untuk meminimalkan jumlah produksi sampah di sekolah-sekolah dan warga lingkungan sekitar sekolah, juga dengan kegiatan pengembangan masyarakat mereka dapat menambah pundi-pundi pendapatan dari daur ulang dan sampah.


Program yang diprakarsai oleh tim manajemen sekolah maupun oleh The Greenish tidak hanya melibatkan komunitas sekolah (siswa, guru, administrator, penjaga kantin, dan keamanan), tetapi juga melibatkan pemangku kepentingan lainnya, yaitu pemerintah, masyarakat, lembaga lain seperti BPLHD, dll program ini juga dirancang untuk bersatu dan sinergis dengan program intra kurikuler intrakurikuler. Program berkelanjutan juga dirancang agar pelaksanaannya tidak berhenti untuk satu generasi, tetapi dapat diwariskan ke generasi berikutnya. Program penghematan energi juga berkolaborasi dan menemukan solusi antara tiga kepentingan yang kepentingan ekonomi, kepentingan sosial dan kepentingan lingkungan.


Sumber : Dokumentasi Pribadi